Abdi-dalem Kraton mengajar Panahan Jemparingan JEGULAN

Jegulan

jegulan jemparingan mataram panahan tradisional langenastro
KRT Jatiningrat sedang memperkenalkan JEGULAN – panahan tradisional jemparingan yg diwariskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono ke 1, dari Kasultanan Jogjakarta.
Baca : Jemparingan APA?

jegulan jemparingan mataram panahan tradisional langenastro

Para Abdi-dalem Kraton Yogyakarta memanah TIDAK dengan dibidik dg mata, melainkan dari HATI.

jegulan jemparingan mataram panahan tradisional langenastro

Jegulan yg selama ini HANYA boleh dilakukan oleh para Abdi-dalem di Kraton Jogja, sekarang mulai diajarkan untuk UMUM. Acara BERSEJARAH ini diliput dan diikuti oleh Dulur2 dari Paseduluran Jemparingan LANGENASTRO dan para penjemparing dari Jogja dan sekitarnya.

jegulan jemparingan mataram panahan tradisional langenastro

jegulan jemparingan mataram panahan tradisional langenastro

jegulan jemparingan mataram panahan tradisional langenastroDari dulur-dulur Paseduluran Jemparingan Langenastro yang mewakili belajar LANGSUNG dg KRT Jatiningrat dan para Kanjeng yg lain, diantaranya :
– mas Topeeq,
– mas Andi Imogiri,
– mas Maryanto,
– mas Danang
– mas Budi & istri
– AyahKRIS (www.AyahKRIS.com)

Lihat foto liputan berikutnya >> JEGULAN

Jemparingan Mataram JEGULAN memanah TANPA dibidik

Jemparingan Mataram JEGULAN

jemparingan mataram jegulanJegulan adalah seni panahan tradisional jemparingan dari kraton Yogyakarta warisan Sri Sultan Hamengkubuwono 1, yg dilakukan dg posisi duduk bersila, membidik sasaran berupa bandul / orang-orangan berbentuk silinder diameter 3cm panjang 30cm dari jarak 35m TANPA dibidik / di-inceng dg mata – cukup dg dirasa dg manah / hati

jemparingan mataram jegulan kraton jogja kamandungan langenastro

Gladhen Alit yg PERTAMA kali diadakan untuk kalangan UMUM ini diajarkan LANGSUNG oleh para Abdi-dalem Kraton Yogyakarta dg pangkat KANJENG,dari Paguyuban Gandhewa Mataram.

jemparingan mataram jegulan panahan tradisional langenastro

Lihat foto liputan berikutnya >> JEGULAN

Prajurit Sultan : Langenastro

Sultan Statie Troupen, (Prajurit Sultan) – gambar dari 1864
Koleksi WF Engelbert Van Bevervoorde
source : flickr paul kijlstra

Dalam lukisan ini tergambar 14 bergada, dimana sekarang tinggal 10 saja (sebahagian info mengatakan tinggal 12). Jadi ada 2 atau 4 bergada yang sudah ditiadakan. Menurut cerita sejak Raffles menguasai Jogja, maka kekuatan pasukan kraton dikurangi secara signifikan, termasuk memecah belah Jogja dengan mendirikan dukeness/kadipaten Pakualam yang berprajurit juga.

bregada langenastro jemparingan prajurit langenastranAtas kanan ke kiri :
Patangpoeloeh (Patangpuluh/Kawandasa)
Djogokario (Jagakarya)
Prawiratama
Njoetro (Nyutra/Panyutra) ~ 2 jenis merah & hitam
Ketanggoeng (Ketanggung)
Langen Astro (Langenastra) *
Mantri Djero (Mantrijero/Mantrilebet)

Bawah kanan ke kiri :
Boeginees (Bugis)
Midji Soemo pratomo **
Soero Karso (Surakarsa)
Djager (Pura Raksaka)*
Midji Soemo atmodjo**
Wiro Brodjo (Wirabraja)
Daeng (Daheng)

*Langenastro sekarang masuk Bergada Mantrijero tetapi berbeda senjata (tombak); sedang Jager hanya menjaga regol saja.

** telah dibubarkan sejak Sultan ke V, setelah penguasaan British-Indies/Raffles di Jawa (Invasi Inggris ke Jogja atau dalam istilah lokal “Geger Spei”) 1812

credit pic : Paul Kijlstra (flickr)

Sumber : https://sejarahyogja.wordpress.com/category/bregada/

Bregada Langenastro Pemanah Beneran dari Kampung Wisata LANGENASTRAN

kampung wisata

Kampung Langenastran sebagai salah-satu kampung wisata dan budaya di Kota Yogyakarta terus berbenah. Salah satu kreasinya adalah dg membentuk apa yang dinamakan Bregada Jemparingan Langenasto.

bregada jemparingan langenastro kampung wisata langenastran

Bregada bisa diartikan sebagai pasukan prajurit. Bregada kampung wisata Langenastran yg terdiri benar-benar pemanah jemparingan ini menjadi salah-satu ikon yang menarik perhatian orang, karena dalam setiap kali perayaan atau event tertentu pada kampung-kampung wisata itu mereka ditampilkan.

Fenomena maraknya kemunculan bregada rakyat patut disyukuri. Sebab keberadaannya turut mewarnai dinamika kebudayaan di DIY.

Seni keprajuritan yang kini tumbuh di kampung-kampung menjadi salah satu penanda keistimewaan warga masyarakat DIY. Berdasarkan catatan, keberadaan bregada rakyat hanya terdapat di DIY.

Di daerah lainpun yang juga memiliki entitas kerajaan tidak ditemui keberadaan berada rakyat.

Bregada rakyat sendiri merupakan bregada imitasi atau tiruan dari bregada Kraton maupun Puro Pakualaman.

Pihak Kraton seperti dikutip dari pernyataan *Penghageng Panitro Puro Kasultanan Ngayogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono*, mendukung inisiatif masyarakat membentuk bregada rakyat, namun seyogyanya untuk desain kostum atau seragam tidak diperkenankan sama persis. Logikanya adalah sama dengan kedudukan seragam TNI/POLRI yang mana masyarakat yang membuat seragam pengamanan atau satuan tugas tidak boleh menyamainya secara persis.

Sumber : http://www.jogja.co/event-jogja-ribuan-bregada-rakyat-penuhi-alun-alun-wates-minggu-ini/

 

Langenastran Kidul, Kraton Jogja – Yogyakarta – LANGENASTRO.com

Langenastran

langenastran jogja yogyakarta kraton kidulKampung-kampung di kota Yogyakarta mempunyai sejarah dan asal-usul tersendiri yang khas.

Keberadaannya tidak lepas dari pembangunan Keraton Yogyakarta di hutan Beringin.

Pengaturan tempat tinggal para pejabat dan abdi dalem keraton yang tersebar di beberapa wilayah, menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya kampung-kampung di Kota Yogyakarta, di antaranya adalah kampung Langenastran dan Langenarjan.

Nama Langenastran berasal dari kata Langenastro, yang merupakan nama salah satu kesatuan atau bregada prajurit. Kesatuan prajurit ini sangat andal dan berperan besar serta berprestasi dalam pertempuran antara pasukan Pangeran Mangkubumi melawan tentara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari tahun 1749 sampai 1751. Sedangkan nama Langenarjan berasal dari kata Langenarjo, merupakan kesatuan prajurit khusus wanita yang dibentuk oleh Sultan Hamengku Buwono II.

Di masa Sultan Hamengku Buwono II prajurit keraton mencapai 26 bregada.

Bregada-bregada tersebut merupakan kekuatan militer yang cukup tangguh untuk menjaga kedaulatan kerajaan. Bregada Langenastro dan Langenarjo merupakan pasukan khusus pengawal raja bersama dengan bregada Langenkusuma, prajurit berkuda khusus wanita dan bersenjata senapan.

Tetapi setelah Inggris menyerang kerajaan Yogyakarta dan Hamengku Buwono II dibuang ke Penang, Hamengku Buwono III sebagai penggantinya dipaksa untuk mengurangi jumlah bregada prajurit. Tujuannya adalah untuk melemahkan kerajaan. Tetapi keberadaan bregada Langenastro dan Langenarjo tetap dipertahankan.

Pada masa pemerintahan Hamengku Buwono IV dikeluarkan peraturan mengenai tempat tinggal abdi dalem keraton. Seluruh abdi-dalem prajurit keraton dipindahkan dari lingkungan njeron beteng (benteng Baluwarti) ke luar benteng di sisi barat, selatan dan timur.

Khusus prajurit Langenastro dan Langenarjo tetap ditempatkan di lingkungan njeron beteng, yaitu di sebelah timur tembok Alun-alun kidul.
Tempat ini kemudian disebut Langenastran dan Langenarjan, mengikuti nama bregada tersebut.
Dalam perkembangannya wilayah tersebut kemudian juga menjadi tempat tinggal masyarakat umum.

Pada tanggal 1 Agustus 1942 seluruh bregada prajurit keraton dibubarkan, termasuk prajurit Langenastro dan Langenarjo. Kegiatan atau aktivitas keprajuritan praktis menjadi tidak ada dan “menghilang”. Ciri khas Kampung Langenastran dan Langenharjo sebagai tempat tinggalnya pun menjadi memudar. Bahkan setelah Indonesia merdeka tidak ditemukan bekas-bekas fisik dan spesifiknya. Aktivitas warga berlangsung seperti layaknya dalam kehidupan masyarakat sesuai profesi masing-masing.

Baru pada tahun 1970, Sultan Hamengku Buwono IX menghidupkan kembali aktivitas prajurit keraton tersebut. Fungsinya bukan untuk pertahanan dan keamanan serta pengawal raja (dan keluarganya) tetapi sebatas untuk kepentingan seremonial keraton dan atraksi budaya bagi pengembangan pariwisata budaya.

Judul Buku :
Sejarah dan Asal-usul Kampung Langenastran & Kampung Langenarjan Jogjakarta
Penulis : Bambang Yudoyono
Penerbit : Jogja Bangkit Publisher, 2017, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xxiv + 150

Sumber : https://www.tembi.net/2017/07/14/asal-muasal-nama-dua-kampung-di-yogyakarta-dari-nama-kesatuan-prajurit/

Baca Juga :
JEMPARINGAN Jogja, seni memanah Kraton Jogjakarta

JEMPARINGAN Jogja, kunjungi: www.LANGENASTRO.com

Jemparingan Jogja

jemparingan jogja mataram langenastroSumber : https://www.backstreetacademy.com/yogyakarta/1832/the-making-of-gendewa-traditional-javanese-archery

Jemparingan kian-hari kian digemari SEMUA kalangan, baik anak-anak s/d lanjut-usia, tidak hanya di Jogjakarta, tapi menyebar pesat ke kota-kota lain BAHKAN sampai ke Mancanegara


Jemparingan Langenastro di program My Trip My Adventure – TransTV

jemparingan mataraman jegulan langenastro panahan tradisional indonesiaPanahan TRADISIONAL yang ada sekarang, AWALnya diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono 1 untuk melatih jiwa ksatria para prajurit / abdi dalem; dan SAMPAI SEKARANG masih tetap dijaga dan dilestarikan para Abdi-dalem kraton kasultanan Yogyakarta.

Sedari kecil, Beliau dikenal sangat cakap dalam olah keprajuritan, mahir berkuda, dan bermain senjata. Selain itu, beliau juga dikenal sangat taat beribadah sembari tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Budaya Jawa.

Pasca merdeka, Indonesia mulai berpartisipasi dan mengambil peranannya dalam pergaulan dunia melalui olahraga.

panahan tradisional jegulan jemparingan mataraman langenastro pakualaman paku alamSri Paku Alam ke VIII, yang kala itu merupakan Wakil Kepala Daerah Yogyakarta mendampingi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, adalah seorang PEMANAH JEMPARINGAN yg handal, bahkan Beliaulah tokoh pendiri Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani).

Dengan seijin Sultan, beliau merombak sedikit Gaya memanah lama, yg tadinya busur posisi horisontal, memanah dg hati (bukan dibidik dg mata. Lihat gambar), menjadi posisi duduk bersila (tetap), tapi posisi busur miring/ diagonal, membidik sasaran dg ‘nginceng’ melihat melalui KALENAN / jendela-bidik 3 cm.

Pada tahun 1953 Sri Paku Alam VIII mendirikan Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani). Upaya Paku Alam VIII untuk mengembangkan Perpani yaitu memperjuangkan olahraga panahan sebagai pertandingan resmi yang diperlombakan dalam PON, mengembangkan olahraga panahan di kalangan masyarakat dan mendaftarkan Perpani sebagai anggota persatuan panahan Internasional FITA.

jemparingan mataraman jegulan langenastro kamandungan

Dulur-dulur Jemparingan Langenastro di Kagungan Dalem bangsal Kamandungan, Kraton Yogyakarta

Baca Juga:
Belajar Jemparingan JEGULAN kraton Jogja

Sumber :
http://kratonjogja.id/raja-raja/2/sri-sultan-hamengku-buwono-i
http://www.jemparingan.info/p/sejarah.html

blogger : Kris-LA (www.AyahKRIS.com)

Jemparingan adalah.. di : www.LANGENASTRO.com

Jemparingan Adalah

Jemparingan kian-hari kian digemari SEMUA kalangan, baik anak-anak s/d lanjut-usia, tidak hanya di Jogjakarta, tapi menyebar pesat ke kota-kota lain BAHKAN sampai ke Mancanegara


Jemparingan Langenastro di program My Trip My Adventure – TransTV

jemparingan mataraman jegulan langenastro panahan tradisional indonesiaPanahan TRADISIONAL yang ada sekarang, AWALnya diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono 1 untuk melatih jiwa ksatria para prajurit / abdi dalem; dan SAMPAI SEKARANG masih tetap dijaga dan dilestarikan para Abdi-dalem kraton kasultanan Yogyakarta.

Sedari kecil, Beliau dikenal sangat cakap dalam olah keprajuritan, mahir berkuda, dan bermain senjata. Selain itu, beliau juga dikenal sangat taat beribadah sembari tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Budaya Jawa.

Pasca merdeka, Indonesia mulai berpartisipasi dan mengambil peranannya dalam pergaulan dunia melalui olahraga.

panahan tradisional jegulan jemparingan mataraman langenastro pakualaman paku alamSri Paku Alam ke VIII, yang kala itu merupakan Wakil Kepala Daerah Yogyakarta mendampingi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, adalah seorang PEMANAH JEMPARINGAN yg handal, bahkan Beliaulah tokoh pendiri Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani).

Dengan seijin Sultan, beliau merombak sedikit Gaya memanah lama, yg tadinya busur posisi horisontal, memanah dg hati (bukan dibidik dg mata. Lihat gambar), menjadi posisi duduk bersila (tetap), tapi posisi busur miring/ diagonal, membidik sasaran dg ‘nginceng’ melihat melalui KALENAN / jendela-bidik 3 cm.

Pada tahun 1953 Sri Paku Alam VIII mendirikan Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani). Upaya Paku Alam VIII untuk mengembangkan Perpani yaitu memperjuangkan olahraga panahan sebagai pertandingan resmi yang diperlombakan dalam PON, mengembangkan olahraga panahan di kalangan masyarakat dan mendaftarkan Perpani sebagai anggota persatuan panahan Internasional FITA.

jemparingan mataraman jegulan langenastro kamandungan

Dulur-dulur Jemparingan Langenastro di Kagungan Dalem bangsal Kamandungan, Kraton Yogyakarta

Baca Juga:
Belajar Jemparingan JEGULAN kraton Jogja

Sumber :
http://kratonjogja.id/raja-raja/2/sri-sultan-hamengku-buwono-i
http://www.jemparingan.info/p/sejarah.html

blogger : Kris-LA (www.AyahKRIS.com)

Budaya Jawa Jenang Sum-suman di kampung Langenastran, Jogja

Budaya Jawa

budaya jawa jemparingan langenastro langenastran jogjaPaseduluran Jemparingan LANGENASTRO -kampung Langenastran tetap teguh nguri-uri budaya jawa, salah-satunya dg acara jenang sum-suman usai menggelar acara besar Tanggap-Warso / ulang-tahun ke-5 di Alun-alun selatan kraton Jogja

SUMSUMAN

Sumsuman adalah tradisi ungkap rasa syukur kepada-Nya dengan sajian utama berupa jenang sumsum yang pada akhir kegiatan dinikmati bersama-sama.

Sumsuman biasanya dilakukan setelah kegiatan besar yg dilakukan bersama-sama. Kegiatan besar yg menyita waktu, pikiran dan tenaga yg terlibat di dalamnya.

Sumsuman adalah simbol syukur, doa, harapan, persatuan dan semangat masyarakat Jawa. Warna putih jenang sumsum melambangkan bersihnya hati, rasa manis pada gula adalah simbol kesejahteraan karena gula merupakan bahan pangan yg dipakai hampir semua masakan jawa dan tidak murah harganya.

Tekstur lengket jenang sumsum diartikan persatuan dan kesatuan. Sebagai penanda keharmonisan dalam keberagaman.

Paseduluran Jemparingan Langenastro di setiap akhir kegiatan besarnya selalu menggelar sumsuman sebagai bentuk ucap syukur dan doa harapan kesejahteraan serta selalu terjaganya harmoni di dalam setiap perbedaan yg muncul selama berkegiatan.

#sumsuman #tradisi masyarakat #jawa dan #bukber #paseduluran #jemparingan #langenastro #jogjakarta @langenastroyk 1 Juni 2017 foto: ibuk @chriratna
— bersama Hamane Jenenge Sabamisme, Eka Farizqi Martalena, Chesta Noriska, dan 16 lainnya di Sasana Jemparingan Langenastro..

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10210607651442509&set=rpd.100012950738285&type=3&theater

Jual busur panah gendewa jemparingan – www.Langenastro.com

Gendewa

Sasana Jemparingan Langenastro selain melayani pembuatan gendhewa jemparingan, juga melayani ganti sayap / lar bambu yg patah, bahkan merobah gendewa paten menjadi model takedown – bongkar pasang.

jual busur panah gendewa jemparingan panahan tradisional

Gendhewa Jemparingan model Paten – www.LANGENASTRO.com

jual busur panah gendewa jemparingan panahan tradisional

Robah dari busur jemparingan Paten menjadi bongkar-pasang – www.LANGENASTRO.com

jual busur panah gendewa jemparingan mataraman langenastro

Memperkenalkan pada Generasi Penerus sejak dini : Proses PEMBUATAN, Penggunaan yg Benar, bahkan sampai Penjualan dan pengiriman – www.LANGENASTRO.com

Baca juga :
Shooting TV pembuatan Jemparingan Mataraman di kampung LANGENASTRAN

Shooting TV buat Jemparingan Mataraman di kampung LANGENASTRAN

LANGENASTRAN

Kampung Langenastran memiliki organisasi RESMI dibawah struktur kepemudaan kampung, yaitu Paseduluran Jemparingan LANGENASTRO, yg tetap nguri-uri seni budaya panahan tradisional Jemparingan Mataraman, termasuk memiliki 3 Empu pembuat Gendhewa,

Ka
(Antara)-Bagi para Empu Gendewa, atau pengrajin pembuat busur panah tradisional gaya Mataraman, selain bisa melestarikan tradisi, kembali digemarinya jemparingan Mataraman, dapat meningkatkan pendapatan. Kendatipun produk buatan tangan tidak bisa diburu waktu, namun pemesanan pembuatan gendewa terus mengalami peningkatan.

 

Sumber :
https://www.ANTARAnews.com/video/678975/melestarikan-pembuatan-gendewa-jemparingan

Jemparingan Sambisena -Sambilegi Jogja & LANGENASTRO

Sambilegi Jogja

Kamis 25 Mei 2017 menjadi hari bahagia buat Paseduluran Jemparingan LANGENASTRO, karena bertambah ADIK BARU, dg diresmikan berdirinya Klub Jemparingan Sambisena, di Sambilegi Jogja

Seremoni pembukaan ditandai dg kegiatan gladhen jemparingan pertama, oleh pak Dukuh Sambilegi, pak Agung Sumedi mewakili Paseduluran Jemparingan Langenastro @langenastroyk dan pak RW dg melepas anak panah pertama sebagai tanda resminya Paseduluran Jemparingan Sambilegi,Jogja

Berikut beberapa foto liputannya :

 

sambilegi jogja sambisena jemparingan mataraman langenastro

Gladfhen PERTAMA Jemparingan Sambilegi

sambilegi jogja sambisena jemparingan mataraman langenastro

Titis 1 : Kris LA – Titis 2 : Luthfi LA – Titis 3 : Hafiz LA

sambilegi jogja sambisena jemparingan mataraman langenastro

Penyerahan Tanda-tresno

sambilegi jogja sambisena jemparingan mataraman langenastro

Jemparingan di Sambisena, Sambilegi Jogja

sambilegi jogja sambisena jemparingan langenastro

Baca juga :
Indonesia Archery Club – Jemparingan LANGENASTRO di liputan Luar-Negeri

Indonesia Archery Club – Jemparingan LANGENASTRO di Luar-Negeri

Indonesia Archery Club

jemparingan langenastro langenastran indonesia archery club panahan tradisional

Indonesia archery club – Paseduluran Jemparingan LANGENASTRO dari kampung Langenastran, Jogjakarta, dalam liputan media luar-negeri AFP, AKTIF melestarikan budaya bangsa.
Foto: dek Dea dan dek Tiurma Langenastro

Ancient Indonesian Archery Finds Mark in the Modern World
August 19, 2016 13:46, Last Updated: August 19, 2016 13:46

Sitting cross-legged, 68-year-old Supadmi fires an arrow across a field into a small stick target and sets a bell ringing, taking the lead in the game – an ancient form of Indonesian archery.

She was among sportsmen and women in colourful headdresses and sarongs who sent hundreds of arrows flying through the sky in unison at a recent tournament, in a festive atmosphere with blaring trumpets and tinkling percussion music.

This local archery known as “jemparingan” has been played for centuries around the ancient kingdom of Yogyakarta, Java island’s cultural heartland where Buddhist and Hindu temples sit amid bottle-green paddy fields.

After decades of decline, a revival is under way as a new generation of enthusiasts pick up bows and arrows for the first time, and elderly archers seek to pass their skills down to youngsters before they are lost forever.

“This sport is training for our character because we need to attain inner peace before we fire off the arrows,” said 68-year-old Supadmi, who like many Indonesians goes by one name, explaining how the spiritual, ancient sport is seen as a workout for the soul as much as the body.

The love of archery has carried through to the modern era and it is one of the few disciplines where Indonesia has excelled in international competition – the country won its first ever Olympic medal in archery, a silver, at the Seoul Games in 1988.

But the popularity of jemparingan itself has been waning – it almost disappeared entirely in the 1990s after the death of one of its biggest backers, a Javanese nobleman named Duke Paku Alam VIII.

Guardians of Tradition

Now there signs that its fortunes may be picking up again. A large number of archers, 140, took part at the recent Yogyakarta tournament, which was also attend by legions of spectators.

At the palace of the sultan in Yogyakarta, a new jemparingan group was formed two years ago that plays in the original royal style and usually meets every week.

Meanwhile in 2012 a new club was set up by archers in the city and nearby Solo, and the government has begun allocating funds to support the rejuvenation.

“The young generation is now our main target and the message we want to get across is that archery is a cool sport,” said Agung Sumedi from Langenastro jemparingan club, which recently began training children under 10 years old.

Still, sparking a mass revival will be an uphill battle.

As recently as the 1990s, every region around Yogyakarta had its own jemparingan tournament, and competitive play would culminate every year with a major competition at a palace to win the Duke’s cup, according to veteran local archer Rahmat Sulistyawan.

He still holds the cup he won in the last such major regional tournament in 2000, when he was just 15, and other local athletes lament that many veteran players long ago abandoned jemparingan.

Jemparingan was originally played only by members of Yogyakarta’s royal family and others considered noble in the complex hierarchy of Javanese society, before it later became a sport for everyone.

Workout for the Soul

Unlike modern archery, it is played with all the archers sitting in a row cross-legged. Instead of aiming at a circular target with a bulls-eye, archers fire their arrows at a stick made of sponge and hay wrapped in cloth measuring 33 centimetres (13 inches) that represents a person.

The top section is red and is supposed to be the head, the part below is yellow, representing the neck, and the rest is white, for the body.

An archer gets most points for hitting the head. When the arrow hits the tiny target, a bell rings to inform the archer – who is sitting 30 metres away – of his success.

Jemparingan is not just physical exercise, however, but also a workout for the soul. In its most traditional form, the string is drawn down to the chest instead of to the tip of the mouth like in the modern style, a method that is meant to exercise calm and concentration.

Loading, aiming and firing the arrow requires concentration and patience, and the sport teaches people about hard work and to focus on goals instead of enemies, according to its proponents.

At the recent tournament, Supadmi emerged the victor in the women’s singles category, picking up a trophy, 500,000 rupiah (US$38) and a live chicken, which was a bonus prize for three on-target shots in a row.

And despite her age, she is determined to join in the revival and plans to teach two of her grandchildren jemparingan.

We must keep this sport alive” she said.

© 2016 AFP

Sumber :
https://m.theepochtimes.com/ancient-indonesian-archery-finds-mark-in-the-modern-world_2141839.html

.

Baca juga :
Jual Busur Panah Jemparingan di Jogja
Belajar Jemparingan JEGULAN kraton Jogja

Jual Busur Panah Jogja – www.Langenastro.com | WA: 0858-0365-8050

Jual busur panah Jogja

Paseduluran Jemparingan Langenastro memiliki 3 orang empu & Pengrajin gendhewa / busur untuk Jemparingan.

AWALnya hanya untuk memenuhi kebutuhan intern di Sasana Jemparingan Langenastro, namun seiring dg banyaknya permintaan yg masuk, sekarang kami juga melayani pembuatan gendewa untuk dijual ke UMUM. Lama pengerjaan +- 1 minggu

Baca selengkapnya :
Langenastro jual busur jemparingan

jual busur panah tradisional jemparingan langenastro jogja

Gambar busur di atas dikenal UMUM sebagai gendhewa Takedown (knock-down) atau bongkar-pasang. Sangat COCOK dipakai untuk panjemparing yg kerja-kantoran, karena mudah dibawa/praktis. Tinggal masuk tas-punggung – gak ribet bawanya.

Gendewa Takedown juga sangat PRAKTIS bagi yang sering gladhen jemparingan hingga ke luar-kota.
Detail silahkan hub.: Bpk Kris LA – WA: 085803658050

 

JEGULAN JEMPARINGANnya Kraton Jogja – www.Langenastro.com

JEGULAN

Panahan Tradisional khusus Abdi-Dalem Kraton Jogja, sekarang diajarkan untuk UMUM di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan.

Paseduluran Jemparingan LANGENASTRO menjadi SAKSI peristiwa bersejarah ini, sekaligus menjadi cantrik-cantrik PERTAMA bersama dulur-dulur dari kota sekitar Jogja lainnya, yg diajar LANGSUNG oleh KRATON Jogjakarta.

jegulan jemparingan mataraman langenastro panahan tradisional

KRT Jatiningrat, S.H dan para Kanjeng sedang mengajarkan filosofi dan teknik panahan tradisional JEGULAN khas kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan, kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (6 Januari 2018).

jegulan jemparingan panahan tradisional kraton jogja kamandungan langenastro

Paseduluran Jemparingan LANGENASTRO bersama dulur-dulur dari Jogja dan kota-kota sekitarnya, sedang menyimak materi yg disampaikan pihak Kraton Yogyakarta

jemparingan mataram langenastro jegulan panahan tradisional kratonUsai mendengarkan piwulang dari para KANJENG, dilanjutkan dg DEMO memanah, langsung di Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

jemparingan mataram jegulan panahan tradisional langenastro

Usai DEMO memanah jegulan oleh para Kanjeng, dilanjutkan dg Gladhen-Alit untuk UMUM, yg diikuti dg penuh antusias oleh Dulur-dulur Langenastro dan peserta lainnya.

jemparingan mataram jegulan panahan tradisional langenastro

jemparingan mataram jegulan panahan tradisional langenastro

Lihat foto liputan berikutnya >> JEGULAN